Kehilangan seorang ayah
Banyak sekali hal yang Berubah Padaku Setelah ayah ku tiada
Namaku Nurul yahya fuziawati
Atau sering di panggil Nuy aku adalah anak pertama dan aku mempunyai 1 adik perempuan
Setiap orang pasti tidak pernah siap menghadapi keadaan ketika tiba waktunya orangtua tiada. Apalagi jika kamu sangat dekat dengan keduanya, Ayah dan Ibu. Saat Kehilangan salah satu dari mereka adalah sebuah tamparan besar yang harus saya hadapi.
Ini adalah sebuah kisah tentang saya yang sangat terpukul dan merasa sedih ketika ayah meninggal
Aku kehilangan ayahku sudah 5 tahun ayah yang meninggal tiba-tiba dan sangat tidak terduga, Ibuku adalah satu-satunya orang yang pal mengajariku apa itu rasa kemanusiaan, empati dan kemurahan hati. Sedangkan Ayahku adalah tipe realis sarkastis di rumah, namun dia adalah satu-satunya orang yang paling pemaaf yang pernah aku temui.
Jadi ketika aku kehilangan ayah aku sangat sedih dan sering menangis. Duka berlangsung sepanjang hari dan aku tidak pernah siap kehilangan mereka. Banyak hal berubah padaku, seperti 11 hal berikut ini.
1. Ponselku tidak pernah berada jauh dariku saat aku tidur. Aku masih berharap bahwa suatu hari aku bisa mendengar suara ayah lagi karena aku sangat merindukannya.
2. Tidak bisa dipungkiri, aku sangat memikirkan kepergian ayahku Dan hal itu membuatku sakit secara fisik selama enam bulan setelah dia meninggal.
3. Kepergian Ayah sungguh membuatku sedih. Beban pikiran yang aku pikul sangat besar, tapi aku mengerti mengapa saat ini Tuhan sudah memanggil Ayah kembali. Hal itu membuat aku lebih kuat sebagai pribadi, sehingga untuk itu aku bersyukur.
4. Sejujurnya aku marah mengingat bahwa kelak anak-anakku tidak bisa melihat kakek mereka.
5. Aku tidak bisa memutar waktu dan meminta kepada Tuhan agar Ayah kembali hidup. Bahwa Tuhan pasti memiliki rencana dibalik takdir-Nya. Seperti seharusnya akan lebih mudah bagiku tegar menjalani kehidupan tanpa ayah dengan kenangan yang tidak terlalu banyak.
6. Jangan pernah mengeluh tentang orang tuamu. Manfaatkan waktu yang berharga dengan membahagiakan mereka di kehidupan yang singkat ini. Karena kita tidak pernah tahu kapan orangtua tiada.
7. Tahukah rasanya kehilangan ayah Rasanya seperti menjadi ‘janda’ dimana kamu tidak pernah menginginkannya. Aku harus kemana agar tidak berada dalam keadaan seperti ini?
8. Selalu ada teman yang datang dan mendengar cerita-ceritaku, namun mereka tidak benar-benar memahami apa yang terjadi dengan diriku. Mereka hanya pendengar setia, dan aku tidak tahu cara lain bagaimana menjelaskan apa yang sebenarnya ada dalam hatiku.
9. Kehidupanku tidak pergi. Hanya manusianya saja yang menghilang, Ayah . Mungkin saat ini aku merasa sangat sedih, tapi kehidupan tetap harus dijalani kan?
10. Jika ada teman, atau orang asing yang sedang bersama Ayah mereka, kadang-kadang rasanya aku seperti cemburu. Iri karena aku tidak bisa merasakan momen itu lagi bersama orang tua. Kenangan itu tidak akan pernah terjadi lagi dan rasanya tidak pernah sama lagi.
Di sinilah aku saat ini, kemudian. Kepergian Ayah selamanya mengubah bagaimana aku melihat dunia. Aku jadi tahu kenangan apa yang harus aku tinggalkan nanti bila aku tiada dan itu akan berarti bagi anak-anakku kelak. Anak-anakku berhak mengetahui betapa mereka sangat dicintai ketika aku pergi.
11.aku harus bisa mencari rezeki sendiri karena aku adalah anak yang paling besar dan tidak mau membebankan kepada ibuku 😞😞
Kehilangan memang hal yang paling tidak mengenakkan, apalagi menghadapi kenyataan orangtua tiada.
Bagaimana menurutmu ? Semoga kisah ini menginspirasimu ya!
Dan bagi kalian yang masih ada orang tua jangan lah kalian melawan bahkan bikin sakit hati mereka sebab kehilangan salah satu dari mereka sudah terasakan oleh ku begitu amat pedih menghadapi kenyataan
Smoga bermanfaat
Asalammualaikum bantu komen ya 😊😊🙏🙏
Merujuk hasil sigi sejumlah lembaga survei, elektabilitas Prabowo masih berada di bawah Joko Widodo yang merupakan presiden petahana.
tirto.id - Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto kembali mendapat perhatian setelah memberi komentar soal elite politik Indonesia. Prabowo menyindir elite politik yang dianggapnya goblok dan bermental maling.
Prabowo awalnya mempertanyakan kondisi kehidupan ekonomi rakyat Indonesia yang ia nilai tak kunjung membaik. Ia berpendapat kondisi ekonomi rakyat saat ini berbanding terbalik dengan kekayaan alam Indonesia.
“Jangan-jangan karena elite kita yang goblok atau menurut saya campuran itu. Sudah serakah, mental maling, kemudian hatinya sudah beku. Tidak setia pada rakyat, hanya ingin kaya di atas penderitaan rakyat,” kata Prabowo.
Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) itu juga menganggap elite politik di DKI Jakarta banyak yang gemar menipu. Ia mengklaim lebih suka bertatap muka dengan kader dan warga di daerah daripada bertemu elite.
Pidato Prabowo yang disampaikan di Gedung Serbaguna, Istana Kana, Cikampek, Jawa Barat, Sabtu (31/3/2018) itu mendapat tanggapan dari elite partai politik di Jakarta. Prabowo diminta menjelaskan lebih rinci tudingannya.
Permintaan itu seperti disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf yang meminta Prabowo menyebutkan langsung identitas elite yang ia singgung. Penyebutan harus dilakukan agar masyarakat tak menyamakan sikap semua elite.
“Siapa yang dikritik harus lebih jelas lagi sehingga tidak menimbulkan tanggapan negatif," kata Nurhayati.
Keinginan agar Prabowo menunjuk langsung elite yang ia sindir juga disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media Ace Hasan Syadzily. Menurutnya, Prabowo seharusnya tak menuduh orang tanpa menyebut identitas jelas.
“Ini seperti mengeluarkan jurus mabuk yang tak jelas mau menembak siapa,” kata Ace kepada Tirto, Senin (2/4/2018).
Hendri balik menduga pidato itu merupakan cara Prabowo mengerek popularitasnya. “Ini hanya sekadar pernyataan untuk meningkatkan popularitas. Jadi yang diharapkan perbincangan masyarakat dari statement ini," kata Hendri kepada Tirto.
Analisis Hendri berdasarkan polemik pernyataan Prabowo sebelumnya yang menyebut Indonesia akan bubar pada 2030. Pernyataan kontroversial itu beredar di publik pada pertengahan Maret 2018 dan sempat disoalkan karena tak ada data penunjang. Belakangan terungkap data yang dipakai Prabowo berasal dari novel Ghost Fleet karya fiksi Peter W. Singer dan August Cole.
Menurut Hendri, pernyataan-pernyataan itu menunjukkan Prabowo sedang mengejar perhatian publik. “Mungkin ini strategi agar lebih terlihat. Lempar isu dulu, data menyusul,” ujar Hendri.
Pernyataan Hendri bisa jadi benar. Merujuk hasil sigi sejumlah lembaga survei, elektabilitas Prabowo masih berada di bawah Joko Widodo yang merupakan presiden petahana.
Hasil survei Saiful Mujani Research Institute yang dirilis awal Januari 2018, menunjukkan elektabilitas Prabowo sebesar 10,5 persen, sedangkan Jokowi ada di angka 38,9 persen.
Survei Indo Barometer menunjukkan elektabilitas Jokowi unggul 34,9 persen sedangkan Prabowo hanya 12,1 persen. Riset lain dari Polmark Research Center, dirilis 18 Desember 2017, elektabilitas Joko Widodo unggul 50,2 persen dan Prabowo Subianto hanya 22 Persen.
Survei terbaru yang dilakukan Populi Centre pada Februari 2018 menunjukkan, elektabilitas Prabowo berada di kisaran 15,4 persen kalah jauh dibandingkan Jokowi yang memeroleh 52,8 persen.
“Apa yang dipaparkan Prabowo tidak didasarkan pada pemahaman persoalan yang kuat. Ini ada kaitannya dengan elektabilitas dia,” ujar Rafif.
Alumnus Uppsala University ini melihat perubahan gaya komunikasi politik Prabowo yang menyentuh sisi psikologis massa mulai terjadi setelah kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.
Rafif menyebut pendekatan ini memang tak salah, hanya saja kebiasaan menyentuh dimensi emosi dibanding akal sehat dianggap tak berdampak positif terhadap perkembangan demokrasi.
Ia menduga, Prabowo kesulitan mencari kesalahan pemerintah sehingga akhirnya menggunakan pendekatan berbasis psikologis massa. “Prabowo belum menemukan titik masuk yang kuat untuk mengkritik pemerintah. Oleh karenanya dimensi emosi lebih banyak dimainkan,” ujar Rafif.
Apa yang dikatakan Prabowo, kata Rafif, bertumpu pada satu simpul. Prabowo sedang berusaha membawa pandangannya tentang ekonomi Indonesia yang sedang terpuruk ke tengah masyarakat.
“Ini titik tumpu dari banyak pengkritik kebijakan Jokowi. Ini simbolik sebenarnya, karena bagaimanapun juga, elite politik di Indonesia berkumpul di Jakarta," kata Rafif.
Dalam konteks Prabowo, ia menduga politikus Gerindra itu kerap menggunakan diksi "keras" karena kebiasaannya di masa lalu.
"Kebiasaan dia di korpsnya dulu mungkin seperti itu. Begitu dia sudah keluar [militer] dan masuk dunia politik, saya pikir diksi yang digunakan kurang pas," ujar Anang.
Peraih gelar Doktor Komunikasi dari University of South Australia itu menilai, kemampuan Prabowo untuk berbicara di depan umum tidak terlatih. Ia dianggap memiliki cara berbicara yang bagus, namun tak pandai memilih kata.
Jika cara berbicara Prabowo tak diperbaiki, Anang memprediksi itu akan berpengaruh terhadap penerimaan publik terhadapnya. Menurutnya, bukan tidak mungkin masyarakat akan menilai negatif Prabowo karena gemar menggunakan kata-kata yang 'keras'.
"Di satu sisi mungkin loyalisnya jadi semakin kuat, tetapi pada lawan politik akan semakin panas. Kemudian [masyarakat] yang floating bisa jadi menilai negatif Pak Prabowo," kata Anang.
Fadli tak menyebut secara jelas siapa elite yang ia dan Prabowo maksud. Ia hanya berkata, pidato Prabowo dianggap mengandung pesan agar elite segera memperbaiki kehidupan masyarakat dan menunaikan janji-janjinya.
Ia menyebut, ada salah satu elite politik yang berjanji tak akan melakukan kebijakan impor tapi kemudian melanggarnya. “Banyak janji-janji itu yang bagus tapi jangan hanya tinggal janji gitu. Misalnya [janji] tidak akan impor tapi akhirnya melakukan impor,” ujar Fadli.
Prabowo awalnya mempertanyakan kondisi kehidupan ekonomi rakyat Indonesia yang ia nilai tak kunjung membaik. Ia berpendapat kondisi ekonomi rakyat saat ini berbanding terbalik dengan kekayaan alam Indonesia.
“Jangan-jangan karena elite kita yang goblok atau menurut saya campuran itu. Sudah serakah, mental maling, kemudian hatinya sudah beku. Tidak setia pada rakyat, hanya ingin kaya di atas penderitaan rakyat,” kata Prabowo.
Mantan Panglima Komando Cadangan Strategis TNI Angkatan Darat (Kostrad) itu juga menganggap elite politik di DKI Jakarta banyak yang gemar menipu. Ia mengklaim lebih suka bertatap muka dengan kader dan warga di daerah daripada bertemu elite.
Pidato Prabowo yang disampaikan di Gedung Serbaguna, Istana Kana, Cikampek, Jawa Barat, Sabtu (31/3/2018) itu mendapat tanggapan dari elite partai politik di Jakarta. Prabowo diminta menjelaskan lebih rinci tudingannya.
Permintaan itu seperti disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Nurhayati Ali Assegaf yang meminta Prabowo menyebutkan langsung identitas elite yang ia singgung. Penyebutan harus dilakukan agar masyarakat tak menyamakan sikap semua elite.
“Siapa yang dikritik harus lebih jelas lagi sehingga tidak menimbulkan tanggapan negatif," kata Nurhayati.
Keinginan agar Prabowo menunjuk langsung elite yang ia sindir juga disampaikan Ketua DPP Partai Golkar Bidang Media Ace Hasan Syadzily. Menurutnya, Prabowo seharusnya tak menuduh orang tanpa menyebut identitas jelas.
“Ini seperti mengeluarkan jurus mabuk yang tak jelas mau menembak siapa,” kata Ace kepada Tirto, Senin (2/4/2018).
Sengaja Beri Pernyataan Tanpa Data
Munculnya reaksi terhadap pidato Prabowo itu dinilai wajar ahli komunikasi politik dari Universitas Paramadina Hendri Satrio. Menurut Hendri, pidato yang disampaikan Prabowo bias data.Hendri balik menduga pidato itu merupakan cara Prabowo mengerek popularitasnya. “Ini hanya sekadar pernyataan untuk meningkatkan popularitas. Jadi yang diharapkan perbincangan masyarakat dari statement ini," kata Hendri kepada Tirto.
Analisis Hendri berdasarkan polemik pernyataan Prabowo sebelumnya yang menyebut Indonesia akan bubar pada 2030. Pernyataan kontroversial itu beredar di publik pada pertengahan Maret 2018 dan sempat disoalkan karena tak ada data penunjang. Belakangan terungkap data yang dipakai Prabowo berasal dari novel Ghost Fleet karya fiksi Peter W. Singer dan August Cole.
Menurut Hendri, pernyataan-pernyataan itu menunjukkan Prabowo sedang mengejar perhatian publik. “Mungkin ini strategi agar lebih terlihat. Lempar isu dulu, data menyusul,” ujar Hendri.
Pernyataan Hendri bisa jadi benar. Merujuk hasil sigi sejumlah lembaga survei, elektabilitas Prabowo masih berada di bawah Joko Widodo yang merupakan presiden petahana.
Hasil survei Saiful Mujani Research Institute yang dirilis awal Januari 2018, menunjukkan elektabilitas Prabowo sebesar 10,5 persen, sedangkan Jokowi ada di angka 38,9 persen.
Survei Indo Barometer menunjukkan elektabilitas Jokowi unggul 34,9 persen sedangkan Prabowo hanya 12,1 persen. Riset lain dari Polmark Research Center, dirilis 18 Desember 2017, elektabilitas Joko Widodo unggul 50,2 persen dan Prabowo Subianto hanya 22 Persen.
Survei terbaru yang dilakukan Populi Centre pada Februari 2018 menunjukkan, elektabilitas Prabowo berada di kisaran 15,4 persen kalah jauh dibandingkan Jokowi yang memeroleh 52,8 persen.
Menyerang Jokowi dengan Pendekatan Emosi Massa
Analis politik dari dari Populi Centre Rafif Pemenang Imawan menerangkan, pernyataan Prabowo ini sebatas cara menarik simpati masyarakat dengan memanfaatkan sisi psikologis massa.“Apa yang dipaparkan Prabowo tidak didasarkan pada pemahaman persoalan yang kuat. Ini ada kaitannya dengan elektabilitas dia,” ujar Rafif.
Alumnus Uppsala University ini melihat perubahan gaya komunikasi politik Prabowo yang menyentuh sisi psikologis massa mulai terjadi setelah kemenangan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno dalam Pilkada DKI Jakarta 2017.
Rafif menyebut pendekatan ini memang tak salah, hanya saja kebiasaan menyentuh dimensi emosi dibanding akal sehat dianggap tak berdampak positif terhadap perkembangan demokrasi.
Ia menduga, Prabowo kesulitan mencari kesalahan pemerintah sehingga akhirnya menggunakan pendekatan berbasis psikologis massa. “Prabowo belum menemukan titik masuk yang kuat untuk mengkritik pemerintah. Oleh karenanya dimensi emosi lebih banyak dimainkan,” ujar Rafif.
Apa yang dikatakan Prabowo, kata Rafif, bertumpu pada satu simpul. Prabowo sedang berusaha membawa pandangannya tentang ekonomi Indonesia yang sedang terpuruk ke tengah masyarakat.
“Ini titik tumpu dari banyak pengkritik kebijakan Jokowi. Ini simbolik sebenarnya, karena bagaimanapun juga, elite politik di Indonesia berkumpul di Jakarta," kata Rafif.
Pemilihan Diksi Cerminkan Kualitas Prabowo
Pakar komunikasi politik dari Universitas Brawijaya Anang Sujoko punya penilaian lain terhadap pidato Prabowo. Menurut Anang, pemilihan kata dalam komunikasi politik yang dilakukan seseorang mencerminkan integritas dan kredibilitasnya.Dalam konteks Prabowo, ia menduga politikus Gerindra itu kerap menggunakan diksi "keras" karena kebiasaannya di masa lalu.
"Kebiasaan dia di korpsnya dulu mungkin seperti itu. Begitu dia sudah keluar [militer] dan masuk dunia politik, saya pikir diksi yang digunakan kurang pas," ujar Anang.
Peraih gelar Doktor Komunikasi dari University of South Australia itu menilai, kemampuan Prabowo untuk berbicara di depan umum tidak terlatih. Ia dianggap memiliki cara berbicara yang bagus, namun tak pandai memilih kata.
Jika cara berbicara Prabowo tak diperbaiki, Anang memprediksi itu akan berpengaruh terhadap penerimaan publik terhadapnya. Menurutnya, bukan tidak mungkin masyarakat akan menilai negatif Prabowo karena gemar menggunakan kata-kata yang 'keras'.
"Di satu sisi mungkin loyalisnya jadi semakin kuat, tetapi pada lawan politik akan semakin panas. Kemudian [masyarakat] yang floating bisa jadi menilai negatif Pak Prabowo," kata Anang.
Pembelaan Gerindra
Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon mengatakan pernyataan Prabowo soal elite merupakan hal wajar. Ia menyebut Prabowo hanya menyampaikan kritik atas elite yang tak bertugas sesuai harapan masyarakat.Fadli tak menyebut secara jelas siapa elite yang ia dan Prabowo maksud. Ia hanya berkata, pidato Prabowo dianggap mengandung pesan agar elite segera memperbaiki kehidupan masyarakat dan menunaikan janji-janjinya.
Ia menyebut, ada salah satu elite politik yang berjanji tak akan melakukan kebijakan impor tapi kemudian melanggarnya. “Banyak janji-janji itu yang bagus tapi jangan hanya tinggal janji gitu. Misalnya [janji] tidak akan impor tapi akhirnya melakukan impor,” ujar Fadli.
(tirto.id - Politik)
Reporter: Lalu Rahadian
Penulis: Lalu Rahadian
*CITA CITA SETELAH LULUS SEKOLAH
setelah saya lulus dari sma saya ingin bekerja dan kuliah tetapi saya tidak ingin membebankan orang tua saya dan saya ingin berusaha sendiri dengan berusaha dan berdoa supaya
ilmu saya bertambah dan saya ingin membahagiakan orang tua saya
* Kelebihan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)
1.Lebih menghemat anggaran
Seperti yang kita ketahui pelaksanaan ujian nasional secara manual membutuhkan biaya yang tidak sedikit, penggunaan anggaran tersebut mulai dari percetakan soal ujian nasional, pendistribusian ujian nasional yang membutuhkan dana yang lumayan besar. Dengan pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer notabene membuat anggaran yang selama ini digunakan untuk mencetak soal dan distribusi soal bisa dialihkan dan dimaksimalkan disektor pendidikan lain Seperti pengadaan beasiswa, kelengkapan sarana dan prasarana.
2. Keterlambatan soal UN bisa diminalisir
Belajar dari kejadian sebelumnya dalam pelaksanaan UN terkadang terjadi keterlambatan berkas soal UN yang menyebabkan jadwal ujian harus diundur. Daerah yang riskan mengalami masalah tersebut adalah daerah yang ada di pedalaman yang sulit untuk diakses. Namun jika menerapkan UNBK maka kejadian seperi itu akan sangat kecil bisa terjadi karena soal bisa diakses secara online.
3. Meminimalisir kecurangan saat ujian
1.Lebih menghemat anggaran
Seperti yang kita ketahui pelaksanaan ujian nasional secara manual membutuhkan biaya yang tidak sedikit, penggunaan anggaran tersebut mulai dari percetakan soal ujian nasional, pendistribusian ujian nasional yang membutuhkan dana yang lumayan besar. Dengan pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer notabene membuat anggaran yang selama ini digunakan untuk mencetak soal dan distribusi soal bisa dialihkan dan dimaksimalkan disektor pendidikan lain Seperti pengadaan beasiswa, kelengkapan sarana dan prasarana.
2. Keterlambatan soal UN bisa diminalisir
Belajar dari kejadian sebelumnya dalam pelaksanaan UN terkadang terjadi keterlambatan berkas soal UN yang menyebabkan jadwal ujian harus diundur. Daerah yang riskan mengalami masalah tersebut adalah daerah yang ada di pedalaman yang sulit untuk diakses. Namun jika menerapkan UNBK maka kejadian seperi itu akan sangat kecil bisa terjadi karena soal bisa diakses secara online.
3. Meminimalisir kecurangan saat ujian
Kecurangan yang kadang dilakukan saat ujian oleh sebagian siswa adalah kebiasaan mencontek pekerjaan temannya. Dengan penerapan sistem ujian nasional berbasis komputer membuat hal tersebut sulit untuk dilakukan karena menurut informasi soal ujian nasional diacak, jadi antara satu komputer dengan komputer yang lain soal pada nomor yang sama berbeda. Hal ini bisa menjadi motivasi tersendiri bagi peserta ujian nasional untuk belajar karena mereka tidak bisa lagi berharap banyak kepada teman-temannya namun dia harus mengandalkan kemamp.uannya sendiri
4. Lebih memudahkan siswa
Dalam segi kemudahan bisa dikatakan ujian nasional berbasis komputer lebih memudahkan siswa ketimbang ujian nasional secara manual/konvensional. Kemudahan tersebut seperti siswa tidak repot lagi mengisi biodata menggunakan pensil yang harus dilakukan dengan ketelitian dan kesabaran, selain itu potensi kerusakan lembar jawaban dengan menggunakan pensil sudah tidak menjadi persoalan lagi karena jika menggunakan komputer siswa hanya menggunakan mouse sebagai navigasi untuk memilih jawaban benar.
5. Hasil ujian bisa diketahui dengan cepat
Tidak seperti ujian nasional secara manual yang membutuhkan waktu yang lama untuk mengetahui hasil ujian. Ujian nasional berbasis komputer justru sebaliknya, waktu yang dibutuhkan untuk mengetahui hasil ujian terbilang hanya sebentar karena menerapkan jaringan internet yang terkoneksi dengan server pusat jadi tidak seperti ujian manual yang mesti mengirim berkas ujian dulu ke pusat untuk diperiksa.
Kekurangan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK)
1. Jumlah komputer yang belum memadai
Kendala pelaksanaan ujian nasional berbasis komputer yang paling nyata adalah minimnya jumlah komputer yang dimiliki oleh tiap-tiap sekolah sehingga tidak semua sekolah mampu melaksanakan ujian nasional berbasis komputer. Belum lagi sekolah yang ada di daerah pelosok yang sama sekali tidak memiliki komputer semakin menambah permasalahan dalam pelaksanaan UNBK.
2. Jaringan internet yang belum merata
Ujian nasional berbasis komputer dilaksanakan secara online dan syarat yang paling utama lancarnya ujian adalah ketersediaan jaringan internet namun fakta berbicara bahwa jaringan internet dibeberapa daerah sangat sulit diakses. Apalagi jika harus digunakan untuk melaksanakan UNBK yang membutuhkan jaringan internet yang kuat.
3. Pelaksanaan ujian nasional
Pelaksanaan ujian nasional yang biasanya serentak terpaksa diadakan secara bergelombang dikarenakan jumlah komputer yang tidak seimbang dengan jumlah peserta UN. Pelaksanaan UN secara bergelombang sedikit banyaknya akan berpengaruh pada psikologi siswa, selain itu potensi kecurangan bisa terjadi karena siswa yang terlebih dahulu ujian mempunyai kesempatan untuk menceritakan kepada teman-temannya yang belum ujian soal-soal yang muncul dalam UN walaupun potensi tersebut terbilang kecil.
4. Aliran listrik
Aliran listrik juga menjadi kendala pelaksanaan UNBK. Memang di kota aliran listrik sudah memadai namun bagaimana dengan sekolah yang ada di daerah perbatasan/pelosok yang masih belum bisa teraliri listrik. Adalah hal mustahil bisa melaksanakan UNBK jika listrik tidak ada karena untuk menyalahkan komputer membutuhkan aliran listrik.
5. Memunculkan masalah sosial
Ujian dengan metode UNBK bisa jadi memunculkan kecemburuan sosial karena sebagian siswa sudah menikmati kemudahan melaksanakan ujian nasional menggunakan komputer sedangkan dipihak lain siswa yang sekolahnya belum memiliki fasilitas yang memadai masih harus melaksanakan UN secara manual. Hal ini menyiratkan ketidakmerataan sarana dan prasarana pendidikan masih sangat terlihat di indonesia.













